Jakarta – Nama Endang Yustika menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sejumlah unggahannya di platform Threads memicu perdebatan di kalangan warganet.
Influencer sekaligus pengusaha muda tersebut viral setelah menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara kondisi finansial dan nilai seseorang, yang memunculkan beragam respons dari publik.
Endang Yustika dikenal sebagai entrepreneur yang membangun bisnis di bidang fashion sejak masih menempuh pendidikan di bangku kuliah. Ia merupakan pendiri Biu.Costore (BIU.co), sebuah bisnis fashion retail yang pada awalnya berfokus pada penjualan pakaian thrift sebelum berkembang menjadi pengembangan merek lokal.
Selain Biu.Costore, Endang juga mengembangkan beberapa lini usaha lain, yakni New.u dan Koura Official. Aktivitas bisnisnya banyak dipromosikan melalui media sosial, terutama Instagram dan TikTok melalui akun @uc.you.
Berdasarkan profil LinkedIn miliknya, Endang menempuh pendidikan Bachelor’s Degree bidang Marketing Communication di London School of Public Relations (LSPR) Institute of Communication and Business Jakarta pada periode 2018–2021.
Memulai Bisnis dari Nol
Perjalanan Endang sebagai pengusaha dimulai saat masih berstatus mahasiswa. Sebelum memiliki bisnis sendiri, ia bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Sebagian pendapatan dari pekerjaan tersebut kemudian disisihkan sebagai modal awal membangun usaha. Bisnis Biu.Costore mulai dirintis ketika Endang masih berada di semester dua perkuliahan dengan fokus pada penjualan pakaian thrift yang saat itu tengah diminati kalangan anak muda.
Seiring waktu, bisnis tersebut berkembang dan menjadi salah satu usaha yang memperkenalkan berbagai produk fashion melalui platform digital.
Viral karena Pernyataan soal Uang
Nama Endang kembali menjadi sorotan setelah unggahannya di Threads pada 21 Juli 2026.
Dalam unggahan tersebut, ia menyampaikan pandangan mengenai pentingnya kondisi finansial serta konsekuensi dari pilihan hidup seseorang.
“Terima fakta kalau lo gapunya uang lo gapunya nilai. Pait tapi fakta,” tulis Endang.
Pernyataan tersebut memicu pro dan kontra. Sebagian pengguna media sosial menilai pesan tersebut sebagai bentuk motivasi agar seseorang berusaha meningkatkan kondisi finansial dan bertanggung jawab terhadap masa depannya.
Namun, tidak sedikit warganet yang mengkritik pernyataan tersebut karena dianggap terlalu menggeneralisasi dan mengaitkan nilai seseorang semata-mata dengan kondisi ekonomi.
Salah satu pengguna Threads menuliskan kritiknya terhadap pernyataan Endang.
“TONE DEAF MAKSIMAL. Lu kira orang jualan bakso, orang jualan pecel lele, UMKM yang masak dari jam 1 pagi dan tutup warung jam 11 malam itu mereka nggak kerja keras? Mereka nggak malas, tapi sekuat apa pun mereka berusaha ya mentok di situ aja. Nggak usah sok kaya deh, enak banget menilai manusia cuma dari duit,” tulis akun @d**hb.
Kembali Disorot Lewat Video tentang Threads
Perhatian publik terhadap Endang kembali meningkat setelah pada 23 Juli 2026 ia mengunggah video yang membahas pengalamannya menggunakan platform Threads.
Dalam video tersebut, Endang menyebut Threads sebagai salah satu media sosial yang menurutnya memiliki lingkungan percakapan yang “toxic”. Ia mengaku tidak menyimpan dendam kepada siapa pun, kecuali kepada pengguna Threads karena menilai platform tersebut dipenuhi pembahasan mengenai kehidupan orang lain.
Menurut Endang, sebagian pengguna yang aktif mengomentari kehidupan figur publik melakukannya karena tidak memiliki kehidupan yang memuaskan, pekerjaan, kondisi finansial, maupun identitas yang kuat.
“Jadi (Threads) itu circle orang-orang yang tidak punya kehidupan, nggak happy, nggak punya kerjaan, nggak punya uang, dan bisa dibilang nggak punya identitas. Karena orang kalau punya background, pendidikan, tempat kerja, suaminya berkecukupan, keluarganya bahagia, dia nggak akan ngumpul dengan orang-orang tersebut,” ujar Endang dalam video tersebut.
Pernyataan itu kembali memicu kontroversi. Sejumlah pengguna media sosial menilai komentar tersebut menggeneralisasi pengguna Threads dan dianggap merendahkan kelompok tertentu.
Hingga kini, perdebatan mengenai pernyataan Endang Yustika masih berlangsung di media sosial. Sebagian warganet menilai pandangannya sebagai bentuk motivasi untuk bekerja keras dan mandiri secara finansial, sementara pihak lain menilai penyampaiannya terlalu keras dan berpotensi mengabaikan kompleksitas kondisi sosial maupun ekonomi yang dihadapi setiap individu.


Comment