Jakarta, editoria.co.id – Persija Jakarta menutup musim Super League 2025/2026 dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Semen Padang di Stadion Jakarta International Stadium (JIS), Sabtu (2352026). Hasil itu memastikan Macan Kemayoran finis di peringkat ketiga klasemen akhir dengan koleksi 71 poin.
Namun di balik penutup musim yang manis tersebut, tersimpan satu catatan yang justru menjadi bahan evaluasi utama bagi pelatih Mauricio Souza, Persija gagal menjadikan kandang sebagai kekuatan utama sepanjang musim.
Alih-alih mendominasi di JIS, Persija justru tampil lebih efektif saat bermain di markas lawan. Mauricio mengungkapkan timnya kehilangan sekitar 11 poin dalam laga kandang, sebuah angka yang cukup besar dalam persaingan papan atas.
Fenomena ini menjadi paradoks tersendiri bagi Persija. Sebagai salah satu klub dengan basis suporter terbesar di Indonesia, bermain di hadapan The Jakmania seharusnya menjadi keuntungan psikologis. Atmosfer JIS yang megah dan dukungan ribuan suporter biasanya mampu memberi tekanan kepada lawan. Namun musim ini, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berubah menjadi konsistensi hasil.
Sebaliknya, Persija justru menunjukkan karakter lebih solid ketika menjalani laga tandang. Mereka mampu bermain disiplin, efisien, dan lebih tenang dalam memanfaatkan peluang. Catatan itu membuat Mauricio menyebut Persija sebagai salah satu tim terbaik saat bermain di luar kandang musim ini.
Masalahnya, performa tersebut tidak selalu muncul ketika bermain di Jakarta. Beberapa hasil imbang dan kekalahan di kandang membuat Persija kehilangan momentum penting dalam perebutan gelar juara.
Selain faktor inkonsistensi permainan, Mauricio juga menyinggung persoalan kartu merah yang beberapa kali diterima pemainnya sepanjang musim. Situasi itu dinilai merugikan tim karena memengaruhi ritme pertandingan dan menyebabkan poin terbuang.
Meski demikian, musim Persija tetap dapat dianggap positif. Finis di posisi tiga besar menunjukkan Macan Kemayoran masih menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola nasional. Di tengah tekanan besar dan ekspektasi tinggi suporter, Mauricio mampu menjaga tim tetap kompetitif hingga akhir musim.
Pelatih asal Brasil itu juga menegaskan bahwa pencapaian musim ini tidak lepas dari kerja kolektif seluruh staf pelatih dan dukungan The Jakmania yang terus hadir mendampingi tim dalam berbagai situasi.
Ke depan, tantangan terbesar Persija bukan hanya mempertahankan performa tandang yang impresif, tetapi juga mengembalikan “tuah kandang” di JIS. Sebab bagi tim yang memiliki ambisi juara, dominasi di rumah sendiri sering kali menjadi pembeda utama dalam perebutan trofi.


Comment