Tokyo, editoria.co.id – Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi mendesak Israel untuk menahan diri dalam operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon serta mengambil langkah-langkah yang mendukung implementasi kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik di kawasan.
Desakan tersebut disampaikan Motegi dalam percakapan telepon selama sekitar 20 menit dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar pada Selasa, sebagaimana disampaikan Kementerian Luar Negeri Jepang.
Dalam pembicaraan tersebut, Motegi meminta Israel mengambil tindakan yang tepat guna memastikan pelaksanaan nota kesepahaman antara AS dan Iran, yang menjadi dasar upaya penghentian permusuhan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Kesepakatan itu juga mencakup langkah awal menuju penyelesaian akhir terkait program nuklir Iran.
Percakapan kedua diplomat berlangsung di tengah perkembangan penting di Timur Tengah, setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Motegi juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya korban sipil serta kerusakan infrastruktur akibat serangan yang melibatkan Israel dan Hizbullah. Menurut pemerintah Jepang, stabilitas kawasan hanya dapat dicapai melalui upaya diplomasi dan pengurangan eskalasi konflik.
Selain menyoroti situasi di Lebanon, Menlu Jepang menegaskan komitmen negaranya untuk berperan aktif dalam proses pemulihan dan rekonstruksi Gaza yang terdampak perang. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap perluasan permukiman Israel dan meningkatnya aksi kekerasan di wilayah Tepi Barat.
Dalam kesempatan itu, Motegi mendesak pemerintah Israel untuk segera mengambil langkah-langkah konkret, termasuk membekukan seluruh aktivitas pembangunan permukiman yang oleh Jepang dinilai bertentangan dengan hukum internasional.
Sementara itu, Gideon Sa’ar menjelaskan posisi pemerintah Israel terkait Iran dan situasi di wilayah Palestina. Kedua pihak sepakat untuk terus menjaga komunikasi dan koordinasi yang erat mengenai perkembangan kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, dalam konferensi pers di Tokyo, Motegi menegaskan bahwa Jepang siap memberikan kontribusi maksimal guna mendukung perdamaian, stabilitas, serta proses pemulihan dan rekonstruksi di Timur Tengah.
“Kami ingin berkontribusi semaksimal mungkin terhadap perdamaian dan stabilitas di seluruh Timur Tengah serta pemulihan dan rekonstruksi kawasan ini,” kata Motegi, merujuk pada perkembangan perjanjian antara Amerika Serikat dan Iran.
Pemerintah Jepang menilai momentum diplomatik yang tercipta dari kesepakatan AS-Iran dapat menjadi peluang penting untuk mengurangi ketegangan regional dan membuka jalan bagi penyelesaian konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Sumber: Kyodo-OANA


Comment