Nasional
Home / Nasional / B50 Dinilai Jadi Strategi Indonesia Hadapi Gejolak Energi Global

B50 Dinilai Jadi Strategi Indonesia Hadapi Gejolak Energi Global

Pencampuran bahan bakar biodiesel di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50 Lembang, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri.

Jakarta, editoria.co.id – Ketidakpastian geopolitik global dinilai semakin mendorong negara-negara untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

Dalam konteks itu, kebijakan pengembangan biodiesel campuran minyak sawit hingga 50 persen (B50) dianggap dapat menjadi salah satu strategi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Pakar transisi energi Institut Teknologi Bandung (ITB), Retno Gumilang Dewi, menilai Indonesia perlu memanfaatkan sumber daya energi domestik agar tidak terlalu rentan terhadap gangguan pasokan energi dunia. Menurutnya, situasi global saat ini menunjukkan bahwa energi bukan lagi sekadar kebutuhan ekonomi, tetapi juga bagian dari persaingan geopolitik antarnegara.

“Setiap negara sedang berlomba mengamankan kebutuhan energinya sendiri. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat ketahanan energi berbasis potensi dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.

Retno menjelaskan bahwa pengembangan biodiesel B50 dapat menjadi langkah strategis karena Indonesia memiliki sumber daya sawit yang besar. Pemanfaatan bahan bakar nabati dinilai mampu menekan impor bahan bakar minyak sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah gejolak global.

Sahabat Polisi Indonesia Konsolidasi, Pengurus Baru Diminta Siapkan Program Kerja

Selain biodiesel, ia menyebut pemerintah juga perlu memperluas diversifikasi energi melalui pemanfaatan gas domestik, bioetanol, hingga pengembangan energi baru terbarukan. Langkah tersebut menjadi bagian dari fase awal transisi energi nasional periode 2025–2030 yang difokuskan pada penguatan ketahanan energi.

Pada tahap berikutnya, yakni 2030–2040, Indonesia diproyeksikan mulai mempercepat penggunaan energi bersih seperti tenaga surya, panas bumi, dan hidro. Pemerintah juga didorong memperluas elektrifikasi di sektor transportasi dan industri untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Sementara itu, pada periode 2040–2060, arah kebijakan energi nasional diperkirakan akan memasuki fase dekarbonisasi mendalam menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060. Fase tersebut mencakup pengurangan penggunaan batu bara secara bertahap serta pengembangan teknologi energi baru seperti hidrogen, amonia, nuklir, dan CCS/CCUS.

Meski demikian, Retno mengingatkan bahwa proses transisi energi tidak dapat dilakukan secara mendadak. Menurutnya, energi fosil masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan menghindari guncangan ekonomi selama masa transisi berlangsung.

Ia juga menyoroti sektor transportasi sebagai tantangan terbesar dalam upaya transisi energi nasional karena masih menjadi pengguna BBM terbesar di Indonesia. Untuk mengatasinya, pemerintah dinilai perlu mempercepat pengembangan kendaraan listrik, memperluas penggunaan gas untuk transportasi massal, serta mendorong penggunaan bahan bakar rendah emisi secara bertahap.

DPR: Penyesuaian Harga BBM Cerminkan Respons Cepat Pemerintah

Di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global, penguatan energi domestik dinilai bukan hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi dan kedaulatan energi nasional.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *