Jakarta, editoria.co.id — Ancaman siber terhadap sektor-sektor strategis nasional menjadi perhatian dalam Cyber Defence Conference 2026 (CDC-2026) yang digelar Indonesia Digital & Cyber Institute (IDCI) di Jakarta, Selasa (2/6/2026). Dalam forum tersebut, keamanan siber dinilai tidak lagi sekadar persoalan teknologi, melainkan bagian penting dari upaya menjaga kedaulatan dan ketahanan nasional.
Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Drs. Slamet Aji Pamungkas, M.Eng., menegaskan bahwa ruang siber telah menjadi salah satu arena strategis yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara. Karena itu, perlindungan terhadap sistem digital nasional perlu menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, sektor-sektor vital seperti pemerintahan, pertahanan, keuangan, transportasi, kesehatan, energi, teknologi informasi dan komunikasi, hingga pangan memiliki tingkat ketergantungan yang semakin tinggi terhadap sistem digital. Gangguan terhadap sektor-sektor tersebut tidak hanya menimbulkan masalah teknis, tetapi juga berpotensi mengganggu pelayanan publik, stabilitas ekonomi, hingga keamanan nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai negara menghadapi peningkatan ancaman siber yang semakin kompleks. Serangan terhadap pusat data, pencurian informasi, gangguan layanan digital, hingga upaya infiltrasi terhadap infrastruktur kritis menunjukkan bahwa keamanan siber kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pertahanan negara.
Pembahasan mengenai keamanan siber menjadi salah satu fokus utama dalam Cyber Defence Conference 2026 yang mengangkat tema “Transformasi Digital dalam Pertahanan Nasional: Implementasi C5ISR untuk Kemandirian Teknologi dan Ketahanan Negara.” Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, militer, akademisi, dan industri teknologi untuk membahas tantangan serta peluang transformasi digital di sektor pertahanan dan keamanan.
Selain keamanan siber, konferensi juga membahas pentingnya integrasi sistem pertahanan digital melalui pendekatan C5ISR (Command, Control, Communications, Computers, Cyber, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance). Konsep tersebut dinilai mampu memperkuat kemampuan negara dalam mendeteksi ancaman, mempercepat pengambilan keputusan, serta meningkatkan koordinasi antarlembaga.
Kepala Pusat Komunikasi dan Elektronika Angkatan Darat, Mayjen TNI Iroth Sonny Edhie, M.H.I., dalam paparannya menekankan bahwa transformasi digital harus diarahkan untuk memperkuat sistem pertahanan nasional. Menurutnya, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu langkah yang dapat meningkatkan kemampuan sistem pertahanan dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru terkait kemandirian teknologi. Ketergantungan pada perangkat, sistem, maupun platform digital asing dinilai dapat menimbulkan risiko strategis apabila tidak diimbangi dengan kemampuan nasional yang memadai. Karena itu, penguatan ekosistem teknologi dalam negeri menjadi bagian penting dari agenda ketahanan digital nasional.
Ketua Harian IDCI, Rhesa Yogaswara, mengatakan bahwa ketahanan nasional di era digital tidak dapat dibangun secara sektoral. Menurutnya, perlindungan data, keamanan sistem informasi, pengembangan talenta digital, infrastruktur teknologi, hingga kemampuan deteksi ancaman perlu terhubung dalam satu ekosistem yang adaptif dan kolaboratif.
“Ketahanan digital harus dibangun melalui sinergi berbagai pihak. Pemerintah, sektor pertahanan, industri teknologi, akademisi, dan komunitas keamanan siber memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga kedaulatan digital Indonesia,” ujarnya.
Melalui forum tersebut, para peserta konferensi juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang keamanan siber, kecerdasan buatan, analisis data, dan teknologi digital lainnya. Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga ahli, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan talenta digital di kawasan.
Cyber Defence Conference 2026 menjadi salah satu ruang diskusi yang mempertemukan berbagai perspektif dalam upaya membangun ketahanan digital nasional. Di tengah semakin kompleksnya ancaman siber global, penguatan keamanan digital, kemandirian teknologi, serta kolaborasi lintas sektor dipandang sebagai fondasi penting untuk menjaga stabilitas dan kedaulatan negara di era transformasi digital.


Comment