Evian-les-Bains, Prancis, editoria.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah menandatangani kesepakatan awal terkait upaya perdamaian yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial internasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Evian-les-Bains, Prancis, Senin (15/6/2026).
Trump mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz diharapkan dapat dimulai sepenuhnya pada Jumat (19/6), seiring dengan rencana peresmian kesepakatan oleh kedua negara di Swiss.
“Saya kira banyak hal luar biasa yang akan terjadi di kawasan Timur Tengah; yang paling penting adalah harga minyak turun signifikan dan pasar saham melesat naik seperti roket hari ini,” kata Trump.
Selat Hormuz Dibuka Tanpa Pungutan Selama 60 Hari
Seorang pejabat senior AS yang berbicara kepada media secara anonim mengungkapkan bahwa memorandum awal tersebut telah ditandatangani oleh Trump, Wakil Presiden AS J.D. Vance, serta Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf yang memimpin delegasi negosiasi Iran.
Dalam memorandum itu, Selat Hormuz disebut akan dibuka selama 60 hari tanpa pungutan biaya bagi kapal-kapal yang melintas. Ketentuan tersebut diharapkan menjadi bagian dari perjanjian final antara kedua negara.
Meski demikian, pejabat tersebut menilai lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut kemungkinan belum akan kembali normal dalam waktu dua pekan ke depan.
Trump juga menyatakan bahwa draf nota kesepahaman kemungkinan akan dipublikasikan setelah penandatanganan resmi yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat mendatang.
Menurut Trump, pemerintahannya belum akan mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran hingga negara tersebut memenuhi seluruh komitmen yang telah disepakati.
Fokus pada Isu Nuklir Iran
Trump menegaskan bahwa tujuan utama pemerintah AS tetap sama, yakni memastikan Iran tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Kesepakatan awal tersebut diumumkan sehari setelah kedua negara mencapai kesepahaman untuk menghentikan permusuhan, membuka kembali jalur maritim, dan mengakhiri blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Setelah penandatanganan memorandum, AS dan Iran akan memasuki masa negosiasi teknis selama 60 hari. Dalam periode tersebut, kedua pihak akan membahas berbagai isu penting, termasuk masa depan program nuklir Iran dan rincian implementasi kesepakatan lainnya.
Wakil Presiden J.D. Vance akan tetap memimpin tim negosiasi dari pihak AS.
Dalam wawancara dengan ABC News, Vance mengatakan kesepakatan awal tersebut telah ditandatangani secara digital pada Minggu (14/6).
AS Pertahankan Kehadiran Militer di Timur Tengah
Meski proses diplomasi tengah berlangsung, Washington belum berencana mengurangi kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah.
Pejabat senior AS mengatakan pasukan tambahan yang sebelumnya ditempatkan untuk mendukung operasi sejak Februari akan tetap dipertahankan selama proses negosiasi berlangsung.
“Kami telah menambah banyak jumlah pasukan ke wilayah tersebut untuk mempersiapkan operasi yang dimulai sejak Februari. Kami berharap dapat mengurangi jumlah pasukan tersebut, tetapi kami belum melakukannya,” ujar pejabat tersebut.
Menurutnya, langkah itu diperlukan untuk memastikan Iran menjalankan seluruh komitmen yang telah disepakati.
Trump juga memastikan Vance akan mewakili AS dalam upacara resmi penandatanganan di Jenewa. Sementara dirinya diperkirakan tidak menghadiri acara tersebut karena masih mengikuti agenda KTT G7 hingga 17 Juni.
Dampak Besar bagi Pasar Energi Global
Kesepakatan ini mendapat perhatian besar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Penutupan efektif selat tersebut oleh Iran sebelumnya telah mengguncang pasar energi dan komoditas global, mendorong kenaikan harga energi serta meningkatkan kekhawatiran inflasi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Sebelum konflik terjadi, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Meski Iran disebut tidak akan mengenakan biaya tol terhadap kapal yang melintas, pejabat Teheran menyatakan pemerintah tetap berhak memungut biaya yang berkaitan dengan keselamatan maritim dan perlindungan lingkungan di kawasan itu.
Seorang pejabat AS lainnya menyebut rincian lebih lengkap mengenai memorandum tersebut kemungkinan akan diumumkan dalam 24 hingga 48 jam ke depan.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan Trump karena berpotensi menstabilkan pasokan energi global dan meredakan tekanan terhadap perekonomian internasional.
Sumber: Kyodo News/OANA


Comment