Ekonomi
Home / Ekonomi / Tekanan Global dan Pelemahan Rupiah Bayangi Pasar, Investor Diminta Waspadai Volatilitas IHSG

Tekanan Global dan Pelemahan Rupiah Bayangi Pasar, Investor Diminta Waspadai Volatilitas IHSG

Jakarta, editoria.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan besar dari faktor eksternal maupun domestik. Pelemahan rupiah, keluarnya dana asing, hingga ketegangan geopolitik global dinilai menjadi kombinasi sentimen yang membuat pasar saham Indonesia bergerak penuh ketidakpastian.

Pada pembukaan perdagangan Jumat, IHSG turun 29,31 poin atau 0,48 persen ke level 6.065,63. Sementara indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga melemah 0,39 persen ke posisi 613,98.

Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pasar masih berada dalam fase volatilitas tinggi setelah tekanan jual yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, perhatian investor saat ini tertuju pada sejumlah faktor penting, mulai dari pergerakan nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, hingga konflik geopolitik antara AS dan Iran yang memengaruhi sentimen pasar global.

“Jika tekanan terhadap rupiah dan aksi jual asing terus berlanjut, IHSG berpotensi kembali menguji area psikologis 6.000,” kata Hendra di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

DPR: Penyesuaian Harga BBM Cerminkan Respons Cepat Pemerintah

Meski demikian, ia melihat peluang pemulihan jangka pendek tetap terbuka setelah koreksi tajam yang membuat sejumlah saham kapitalisasi besar berada pada kondisi oversold. Situasi tersebut dapat memicu aksi beli oleh investor yang memburu harga murah (bargain hunting).

Hendra mengatakan investor juga sedang memantau pergerakan harga minyak dunia serta yield obligasi Amerika Serikat yang menjadi indikator utama aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Secara teknikal, kondisi IHSG dinilai masih berada dalam tren bearish kuat setelah menembus sejumlah level support penting dalam beberapa waktu terakhir. Area 6.000 kini dianggap sebagai titik krusial yang menentukan arah pasar berikutnya.

Apabila level tersebut gagal dipertahankan, indeks diperkirakan berpotensi melanjutkan pelemahan menuju kisaran 5.880 hingga 5.900. Sementara untuk peluang rebound, IHSG perlu kembali bergerak di atas area 6.200 dengan dukungan volume beli yang kuat.

“Pasar masih berada dalam fase panic selling sehingga investor perlu lebih disiplin dalam mengelola risiko,” ujarnya.

Komisi XI Sebut Transisi Kepemimpinan BI Tetap Menjaga Stabilitas

Dari dalam negeri, pasar disebut turut merespons negatif rencana pemerintah membentuk badan pengatur ekspor sumber daya alam. Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi bertambahnya birokrasi dan dampaknya terhadap daya saing ekspor nasional.

Tekanan semakin besar seiring pelemahan rupiah yang berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS, serta derasnya arus modal asing keluar dari pasar domestik yang sejak awal tahun disebut telah melampaui Rp51 triliun.

Di sisi global, sikap hawkish bank sentral AS atau The Fed juga masih membebani pasar. Risalah rapat FOMC terbaru menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi AS, yang membuka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang.

Meski pasar domestik tertekan, sejumlah bursa global justru bergerak positif. Wall Street ditutup menguat, dengan indeks Dow Jones naik 0,55 persen, S&P 500 menguat 0,17 persen, dan Nasdaq bertambah 0,20 persen.

Pemerintah Tegaskan Tak Akan Naikkan Tarif Pajak

Bursa Asia pada perdagangan pagi juga mayoritas berada di zona hijau, dipimpin lonjakan indeks Nikkei Jepang yang naik lebih dari 2 persen.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *